Banyak leader pusing pas liat KPI tim naik-turun kayak grafik crypto. Padahal kalau kamu dalami isi bukunya The Human Side of Leadership, ada pesan inti yang harus kamu cerna dulu: performa turun karena manusianya lagi turun.
Angka itu cuma hasil akhir, bukan sumber masalah. Dan sebagai leader, tugas kamu bukan cuma ngejar target—tapi ngebaca manusianya sebelum KPI jatuh makin dalam.
Masalahnya, banyak leader sebenernya nggak punya metode buat baca manusia. Mereka cuma ngandelin laporan, angka, dan feeling. Padahal human leadership punya cara yang jauh lebih akurat dan manusiawi buat memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik performa tim kamu.
Nah, biar kamu nggak cuma “nebak-nebak”, Mincle kasih langkah yang paling esensial dan bisa langsung kamu terapin:
1. Gali Cerita, Bukan Sekadar Cek Progress
Dalam human leadership, kamu nggak boleh berhenti di pertanyaan, “Progress sudah sampai mana, nih?”. Itu cuma ngebuka permukaan. Yang harus kamu cari tuh lapisan emosional di balik kerjaan mereka.
Mincle saranin kamu tanya gini pas 1-on-1 sama karyawan:
“Belakangan ini apa yang paling menguras energi kamu di kerjaan?”
Jawaban kayak gini bisa jadi bakal muncul:
– “Aku takut bikin salah gara-gara deadline kemarin chaos.”
– “Aku bingung mesti mulai dari mana karena prioritas berubah terus.”
– “Aku ngerasa kontribusi aku nggak keliatan, jadi agak down.”
Nah, tiga jawaban ini bukan sekadar curhatan. Ini kode keras kalau ada kondisi internal yang lagi goyah. Di titik inilah banyak leader salah langkah: mereka langsung ngejar angka, padahal yang rusak itu manusianya duluan.
2. Baca Emosi Mereka, Karena Laporan Sering Bohong
Wagner bilang manusia itu ngomong dua kali: lewat kata-kata, dan lewat emosinya.
Leader yang jeli pasti nangkep tanda-tanda kayak:
– Nada suara melemah → energi mental drop
– Tatapan kosong → mental load terlalu penuh
– Senyum kaku → lagi masking stress
– Gerakan gelisah → ngerasa nggak aman
Ini semua indikator lebih awal dari turunnya KPI. Kalau kamu peka di sini, kamu bisa “matikan api kecil” sebelum kebakarannya gede.
3. Bangun Ruang Aman Biar Mereka Berani Jujur
Karyawan cuma mau buka kondisi emosinya kalau mereka merasa aman. Nah, ruang aman itu bukan cuma kode “silakan bicara”, tapi harus ada vibe yang bikin mereka yakin kalo kamu nggak bakalan nge-judge.
Kalimat yang ngebangun trust:
– “Tenang, kita cari bareng. Kamu lagi kehalang di bagian mana?”
– “Nggak apa-apa jujur dulu, gue dengerin.”
– “Ini bukan nyari salah, ini nyari akar.”
Perlu kamu tau kalo karyawan yang ngerasa aman itu performanya jauh lebih stabil, kreatif, dan bertanggung jawab.
Intinya:
Human leadership itu bukan soal jadi leader yang “baik hati”, tapi leader yang paham dinamika manusia sampai ke level psikologis.
Kalau kamu bisa baca manusianya, kamu bisa jaga KPI tanpa drama, tanpa micromanage, dan tanpa marah-marah.



